Iklan

Bukan Deklarasi, Mengapa Polisi Bubarkan Silaturahmi KAMI?

9/29/2020, 14:37 WIB Last Updated 2020-09-29T07:37:56Z
masukkan script iklan disini

 Presidium KAMI, Din Syamsuddin. (Foto: Instagram @m_dinsyamsuddin)

Fokushukum.com, Jakarta
- Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) memastikan acara di Surabaya yang dihentikan Polisi bukan sebuah deklarasi.


"Itu acaranya bukan deklarasi, karena sudah pada 18 Agustus yang lalu," kata Presidium KAMI, Din Syamsuddin, dalam keterangannya, Senin (28/9/2020).


Din mengatakan, kegiatan yang dihadiri Gatot Nurmantyo merupakan ajang silaturahmi akbar KAMI di Jawa Timur. Acara mengangkat tema 'Mengantisipasi Bangkitnya Komunisme Gaya Baru' itu sebelumnya juga telah diketahui pihak kepolisian.


Diketahui, acara KAMI Jawa Timur batal digelar di Gedung Juang 45 Surabaya. Salah satu deklarator KAMI, Gatot Nurmantyo, kemudian berpidato di Graha Jabal Nur, Jambangan, Surabaya.


"Saya kebetulan datang disuruh ke Jabal Nur, karena semua perwakilan ulama dan habaib berkumpul di Jabal Nur. Karena diberi tahu tidak bisa ke sana (Gedung Juang 45, red) karena didemo, jadi habis itu dianggap sudah deklarasi saja. (Saya diminta) tolong memberi sepatah-dua kata," kata Gatot di Masjid Assalam Puri Mas, Surabaya.


"Jadi kita harus ikuti apa yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Sudah selesai semuanya. Di sini bertemu dengan tokoh-tokoh masyarakat," kata Gatot kepada wartawan di Jalan Jambangan Kebon Agung, Surabaya.


Dalam kesempatan lain, Gatot Nurmantyo menuding aksi penolakan terhadap acara mereka di Gedung Juang 45 dan Graha Jabalnur Surabaya diikuti massa bayaran.


"Saya mengimbau kepada rekan-rekan KAMI, bahwa kita harus bersyukur. Karena yang demo di sana karena kehadiran KAMI akhirnya ada demo. Demo kan dibayar. Dalam ekonomi susah seperti ini, ada rekan-rekan yang kesulitan dan ada tawaran ya diterima," kata Gatot di Masjid As-salam Puri Mas Surabaya. (rad)

Komentar

Tampilkan

Other Stories