Iklan

Utang Luar Negeri April 2020 Lebih Tinggi dari Bulan Sebelumnya

6/16/2020, 15:17 WIB Last Updated 2020-06-16T08:17:18Z
masukkan script iklan disini
Tumbuhnya ULN disebabkan oleh peningkatan ULN publik di tengah perlambatan pertumbuhan ULN swasta. (Foto : Liputan6.com)

Fokushukum.com, Jakarta - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia akhir April 2020 tercatat USD400,2 miliar atau Rp5.603 triliun (kurs Rp 14.000) tumbuh 2,9 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, Maret 2020 sebesar 0,6 persen (yoy). Utang tersebut terdiri dari utang sektor publik (Pemerintah dan bank sentral) USD192,4 miliar dan utang sektor swasta (termasuk BUMN) USD207,8 miliar. Meski begitu Bank Indonesia menilai, utang itu masih terkendali.

Dalam siaran resmi, Senin (15/6/2020), Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko mengatakan, utang tersebut terkendali dengan struktur yang sehat. Tumbuhnya ULN disebabkan oleh peningkatan ULN publik di tengah perlambatan pertumbuhan ULN swasta.


“ULN Pemerintah meningkat, setelah pada bulan sebelumnya mengalami kontraksi. Posisi ULN pemerintah akhir April 2020 tercatat USD189,7 miliar atau tumbuh 1,6 persen (yoy), berbalik dari kondisi bulan sebelumnya yang terkontraksi 3,6 persen (yoy),” kata Onny Widjanarko.

Perkembangan ULN dipengaruhi oleh arus modal masuk pada Surat Berharga Negara (SBN), dan penerbitan Global Bonds Pemerintah sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan pembiayaan, termasuk untuk penanganan wabah Covid-19. Onny memastikan, pengelolaan ULN Pemerintah dilakukan secara hati-hati dan akuntabel.


Hal itu dilakukan untuk mendukung belanja prioritas yang saat ini dititikberatkan pada upaya penanganan wabah Covid-19 dan stimulus ekonomi. Sektor prioritas tersebut mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,3 persen dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,4 persen), dan sektor jasa pendidikan (16,2 persen).

Selain itu, ada sektor jasa keuangan dan asuransi (12,8 persen), serta sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,6 persen). Utang swasta tumbuh melambat.

Sementara itu, trend perlambatan ULN swasta masih berlanjut. ULN swasta pada akhir April 2020 tumbuh 4,2 persen (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya 4,7 persen (yoy).

Perkembangan ini disebabkan oleh makin dalamnya kontraksi pertumbuhan ULN lembaga keuangan di tengah stabilnya pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan. Akhir April 2020, ULN lembaga keuangan terkontraksi 4,8 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi bulan sebelumnya 2,4 persen (yoy).

Sedangkan, ULN perusahaan bukan lembaga keuangan sedikit meningkat dari 7,0 persen (yoy) pada Maret 2020 menjadi 7,3 persen (yoy) pada April 2020.

“Beberapa sektor dengan pangsa ULN terbesar, 77,4 persen dari total ULN swasta adalah sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin (LGA), sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industri pengolahan,” papar Onny.

Onny menegaskan, struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) akhir April 2020 sebesar 36,5 persen, sedikit meningkat dibandingkan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 34,6 persen.

“Struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,9 persen dari total ULN,” katanya. (ten)

Komentar

Tampilkan

Other Stories