Iklan

Surat Terbuka untuk Ade Armando, yang Sebenarnya Dungu itu Anda

6/02/2020, 08:20 WIB Last Updated 2020-06-02T01:27:09Z
masukkan script iklan disini
\
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Din Syamsuddin. (Foto : Instagram @m_dinsyamsuddin)


Fokushukum.com, Jakarta – Entah ada angin apa tiba-tiba Ade Armando mengunggah poster kegiatan Masyarakat Hukum Tata Negara Muhammadiyah (Mahutama) yang bertajuk kemungkinan pemakzulan presiden di tengan pandemi.

Kebetulan keynotenya adalah Prof. Din Syamsuddin ketua umum PP. Muhammadiyah 2005-2015.
Dalam captionnya, Ade Armando mengatakan bahwa Muhammadiyah ingin memakzulkan presiden dan Din Syamsuddin dungu.
Siapa yang dungu sebenarnya? Ada beberapa hal yang perlu dipahami oleh Bung Ade Armando.
1. Keliru jika menyebut penyelenggara diskusi tersebut Muhammadiyah. Yang benar adalah Mahutama, komunitas ahli hukum tata negara yang berafiliasi kepada Muhammadiyah.
2. Diskusi tersebut tidak lahir di ruang hampa, melainkan sebuah respon dari peristiwa sebelumnya. Ada upaya intimidasi diskusi dan teror kepada panitia diskusi bertajuk sama di UGM. Mahutama hanya ingin menunjukan bahwa kebebasan pendapat mesti mendapat tempat dalam demokrasi.
3. Diskusi dengan tema pemakzulan berbeda dengan upaya pemakzulan. Apalagi yang didiskusikan adalah soal aturan hukum. Kita boleh tidak setuju tema diskusi ini diangkat saat pandemi. Namun harus tetap disampaikan secara baik dan argumentatif. Bukan dengan teror atau dengan mendungukan orang lain.
4. Muhammadiyah berdiri sebelum bangsa ini lahir. Tokoh-tokoh Muhammadiyah tidak perlu diragukan rasa kebangsaannya. Silahkan Bung Ade langsung bertabayyun dan silaturahim jika memang ada yang kurang sreg di hati.
Yang jelas ketika ada tokoh Muhammadiyah bersikap oposan, jangan samakan dengan oposan-oposan yang hanya mengacaukan atau merecoki pemerintah.
Semoga Bung Ade membaca surat terbuka ini dan mau mencabut kembali pernyataannya. (Oleh : Roby Karman, Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)
Komentar

Tampilkan

Other Stories