Iklan

Kritik AS, China Komentari Demonstrasi George Floyd

6/01/2020, 12:43 WIB Last Updated 2020-06-01T05:47:42Z
masukkan script iklan disini
 Ribuan orang saat berkumpul untuk demonstrasi damai dalam mendukung George Floyd di AS. (Foto : Instagram @emrata)
Fokushukum.com, Jakarta – Media pemerintah China, Global Times menyoroti kesuruhan dibeberapa kota di beberapa negara bagian Amerikat Serikat, buntut protes terkait kematian George Floyd yang berakhir ricuh. Mereka membandingkan kerusuhan di Amerika dengan gerakan pro-demokrasi di Hong Kong yang terjadi beberapa waktu lalu.
Beijing telah lama geram atas kritikan negara-negara barat, terutama AS atas penanganan protes pro-demokrasi yang mengguncang Hong Kong tahun lalu.
Juru Bicara pemerintah dan media resmi China kemudian melancarkan serangan balasan berupa kritik tajam terkait penanganan pemerintah AS atas demonstrasi akibat kekerasan rasial dan kebrutalan polisi yang mengakibatkan George Floyd, warga kulit hitam meninggal dunia.
“Ketua DPR AS Nancy Pelosi pernah menyebut protes kekerasan di Hong Kong ‘pemandangan yang indah untuk dilihat’…Politisi AS sekarang dapat menikmati pemandangan ini dari jendela mereka sendiri,” tulis pemimpin redaksi tabloid nasionalis Global Times, Hu Xijin seperti dikutip dari AFP.
“Seolah-olah para perusuh radikal di Hong Kong entah bagaimana menyelinap ke AS dan menciptakan kekacauan seperti yang mereka lakukan tahun lalu,” tambahnya.
Kritikan juga datang dari, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri china Hua Chunying. Dalam cuitannya, Hua menulis ‘I Can’t Breathe’ disertai tangkapan layar cuitan Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus yang mengkritik pemerintah China atas kebijakan terkait Hong Kong.
AS sebelumnya memang kerap mengkritik kebijakan China terkait penanganan kerusuhan di Hong Kong beberapa waktu lalu akibat protes yang dilancarkan aktivis pro-demokrasi. Namun China berkeras bahwa ‘pasukan asing’ yang harus disalahkan atas kekacauan ketika aksi demonstrasi di Hong Kong sejak Juni tahun lalu bergulir ataupun terkait insiden bentrok dengan pihak kepolisian.
Menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump terkait rencana penanggalan hak istimewa Hong Kong, sebuah komentar mengemuka dari China Daily, salah satu corong Partai Komunis China yang menyatakan politisi AS bermimpi ‘menumbalkan’ China.
“Lebih baik menyerah atas mimpi itu dan kembali ke kenyataan,” kata respons tersebut.
“Kekerasan menyebar di AS … Politisi AS harus melakukan pekerjaan mereka dan menyelesaikan masalah di AS, alih-alih mencoba menciptakan masalah baru di negara lain,” lanjut pernyataan itu.
Pada Senin (25/5/2020), Floyd meninggal saat dalam penahanan polisi. Sebelum tewas Floyd sempat mendapat perlakuan buruk dari seorang petugas polisi, Derek Chauvin, yang menekan lehernya di aspal dengan menggunakan lutut hingga menyebabkan dia pingsan pada saat proses penangkapan.
Karena hal ini banyak dukungan terhadap kasus yang menimpa Flyod. Bahkan di AS dalam beberapa hari trakhir terjadi demontrasi tentang diskriminasi yang dilakukan oleh kepolisian.
Akibat demontrasi tersebut, 25 kota dari 16 negara bagian AS mulai memberlakukan jam malam. (rri)
Komentar

Tampilkan

Other Stories