Iklan

Ini Strategi Pemerintah Capai Ketahanan Energi dengan EBT

6/11/2020, 13:55 WIB Last Updated 2020-06-11T06:55:51Z
masukkan script iklan disini
Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Jisman Hutajulu. (Foto : Instagram @jismanhutajulu)
Fokushukum.com, Jakarta – Dalam rangka memenuhi target bauran energi nasional 23% bersumber dari energi baru terbarukan (EBT) di tahun 2025 yang tertuang pada Kebijakan Energi Nasional (KEN), Pemerintah bersama PT PLN (Persero) telah merencanakan strategi untuk memenuhi aspek energy sustainability dengan memanfaatkan dan mengembangkan energi terbarukan, khususnya potensi energi setempat di suatu daerah secara lebih luas.

“Ke depan banyak tantangan yang kita hadapi dalam pengembangan EBT ini terutama untuk meningkatkan share EBT di dalam bauran energi kita. Dengan EBT ini selain green yang kita peroleh, kita menuju ke ketahanan energi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di negara kita, bukan impor,” ujar Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Jisman Hutajulu saat membuka Pelatihan Perencanaan Ketenagalistrikan Berbasis EBT secara daring, Selasa (9/6/2020).

Kebijakan bauran EBT 23% ini telah diimplementasikan dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2019-2038 yang menjadi dasar penyusunan Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah (RUKD), maupun Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2019-2028.

Menurut Jisman, pengembangan energi terbarukan yang berkelanjutan menjadi penting, karena saat ini untuk menuju ketahanan energi Indonesia perlu pemanfaatan energi setempat yang bersih. Selain itu, pembiayaan pembangunan proyek berbasis energi fosil seperti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara juga sudah dihentikan oleh negara-negara pemberi modal.

Jisman menyampaikan EBT banyak berada di daerah-daerah remote di kepulauan yang belum terlistriki karena belum bisa dimasukkan dalam jaringan PLN. Total ada 433 desa di Indonesia yang belum mendapatkan listrik.

“Kita coba menyalakan tahun ini. Karena desa-desa ini scattered (tersebar), maka diperlukan teknologi karena tidak bisa extension grid dari PLN. Paling cocok di sana adalah dengan mengembangkan energi setempat, dengan EBT,” kata Jisman. Ia mencontohkan pengunaan energi surya dan air untuk melistriki desa-desa tersebut. (sdm)
Komentar

Tampilkan

Other Stories