Iklan

Bunga Kecombrang Asal Sumut, Mulai Merekah di Pasar Internasional

6/12/2020, 11:28 WIB Last Updated 2020-06-12T04:28:56Z
masukkan script iklan disini
Bunga Kecombrang digunakan masyarakat sebagai bahan pangan campuran masakan khas. (Foto : Instagram @fahriorchid)
Fokushukum.com, Jakarta – Biasanya bunga kecombrang (Etlingera elatior) digunakan masyarakat di Sumatera Utara (Sumut) sebagai bahan pangan campuran masakan khas. Tidak hanya lezat, bunga inipun diyakini memiliki kandungan nutrisi yang kaya hingga tinggi serat.

Kini, komoditas asal sub sektor hortikultura inipun mulai merambah pasar ekspor. Untuk pertama kalinya, Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Belawan memfasilitasi sertifikasi ekspor bunga kecombang sebanyak 90 kilogram senilai Rp. 6 juta milik CV. SP dengan tujuan Malaysia.

“Dipengiriman yang perdana ini, persyaratan teknisnya kami kawal ketat, agar dapat diterima di negara tujuan,” kata Hasrul, Kepala Karantina Pertanian Belawan melalui keterangan tertulisnya, Selasa (9/6/2020).

Menurut Hasrul, mengingat komoditas ini baru pertama kali dikirim maka untuk mengantisipasi kerusakan berupa kisut dan layu akibat karakteristik bunga serta jarak sentra ke negara tujuan, maka pihaknya meminta pelaku untuk menambahkan pendingin.

Bentuknya sederhana saja, berupa kantongan es batu disetiap kemasan dan mengatur suhu container cold storage dikisaran 1-4°Celcius, agar terjaga, tambah Hasrul.

Dari data klinik ekspor yang berada dikantor layanan Karantina Pertanian Belawan, setidaknya ada tambahan dua komoditas ekspor baru, yakni gula kelapa dan labu beku. Diawal tahun hingga Mei 2020, gula kelapa berhasil membukukan 2 kali pengiriman sebanyak 58,3 ton senilai Rp. 1,03 milyar dengan tujuan Brasil dan Yunani. Sementara labu beku mencatat 3 kali ekspor ke Cina dan Malaysia sebanyak 8,4 ton dengan nilai Rp. 228,9 juta, papar Hasrul.

Layanan Prioritas bagi Eksportir Pertanian

Secara terpisah, Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) menjelaskan sejalan dengan gerakan tigakali ekspor, Gratieks yang digagas Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo, red) pihaknya melakukan sinergisitas dengan seluruh pihak, baik instansi dipusat, daerah dan pelaku usaha termasuk petani.

“Selain menyiapkan bimbingan teknis sanitari dan fitosanitari, kami juga membuka layanan klinik ekspor,”kata Jamil.

Masyarakat dapat langsung datang ke kantor layanan karantina pertanian ditanah air terdekat guna mendapatkan akses informasi peta potensi ekspor pertanian.

“Pokoknya, bagi eksportir produk pertanian kami prioritaskan. Kami berharap ini dapat mendorong bertumbuhnya ragam komoditas dan ekspotir baru sekaligus,” pungkasnya. (tan)
Komentar

Tampilkan

Other Stories