Iklan

Sempat Jadi Kontributor Majalah Playboy, Begini Klarifikasi Dirut Baru LPP TVRI

5/29/2020, 18:07 WIB Last Updated 2020-05-29T15:50:04Z
masukkan script iklan disini
Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik TVRI, Iman Brotoseno (Foto : Instagram @dunia_tv)

Fokushukum.com, JakartaFilm maker Iman Brotoseno telah resmi dilantik menjadi Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia. Pelantikan Iman tersebut menjadi sorotan publik, lantaran Iman memiliki rekam jejak sebagai seorang pembela untuk Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

Cuitan lawas Iman Brotoseno yang memberikan pembelaan terhadap Jokowi kembali viral. Salah satunya saat Iman membela Jokowi dalam program pembangunan infrastruktur pada 2018.

"Yang nyinyirin Jokowi bangun infrastruktur sebaiknya mudik jangan lewat tol. Lewat jalan yang dibangun Daendels saja," kata Iman pada 11 Mei 2018 lalu.

Bukan itu saja, jejaknya yang pernah menjadi kontributor majalah pria dewasa Playboy juga ramai jadi perbincangan publik. Terkait hal tersebut Dirut baru TVRI itu tidak mengelak.

"Dalam tahun 2006 – 2008 saya sering menjadi kontributor foto dan artikel tentang penyelaman di berbagai majalah, termasuk salah satunya pernah dimuat  hanya satu kali, di majalah Playboy Indonesia," kata Iman Brotoseno melalui siaran pers yang diterima Fokushukum.com, Jumat (29/5/2020).

Dia menjelaskan, artikelnya itu dimuat di majalah Playboy, edisi September 2006 dengan judul “Menyelam di Pulau Banda“. Tulisan ini fokus mengulas wisata bahari dan sama sekali tidak ada unsur pornografi.

Di bawah ini adalah klarifikasi lengkapnya, terkait soal majalah Playboy,  kemudian dugaan adanya pihak yang sengaja membelokkan opini dan melakukan pembunuhan karakter, juga serta rencana TVRI ke depannya, sebagai berikut : 

Puji syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta'ala atas ridho dan karuniaNya sehingga saya dilantik sebagai Direktur utama LPP TVRI ( PAW ) 2020 – 2022. 

Latar belakang saya adalah seorang pekerja seni – sutradara film, penulis, fotografer yang mungkin mempunyai cara pandang bersikap yang bisa dianggap berbeda bagi sebagian orang.  Banyak tulisan tulisan saya di blog pribadi atau majalah yang bisa menunjukan siapa saya.  Mulai dari topik kebangsaan, sejarah,  alam, fotografi,  masalah aktual (current issue ), politik, budaya juga agama Islam. 

Dalam tahun 2006 – 2008 saya sering menjadi kontributor foto dan artikel tentang penyelaman di berbagai majalah, termasuk salah satunya pernah dimuat  hanya satu kali, di majalah Playboy Indonesia, edisi September 2006 dengan judul “Menyelam di Pulau Banda“. Tulisan ini fokus mengulas wisata bahari dan sama sekali tidak ada unsur pornografi.

Majalah tersebut, sangat berbeda dengan versi di luar negeri. Banyak penulis juga mengisi majalah tersebut dan banyak tokoh nasional juga yang diwawancara di Playboy Indonesia. Tentunya hal ini  tidak menghilangkan integritas penulis dan tokoh yang bersangkutan, karena substansinya tidak terkait pornografi. 

Bahkan sikap Dewan Pers ketika itu menilai terhadap putusan MA yang memvonis Erwin Arnada sebagai Pemred majalah Playboy Indonesia pada tahun 2010. Dewan Pers, secara tegas menolak menyebutkan majalah Playboy Indonesia melanggar pasal pornografi. Bahkan Dewan Pers menilai, putusan tersebut merupakan bentuk kriminalisasi pers.

Sesudah pelantikan menjadi Direktur Utama TVRI, saya menyatakan, dalam era digital sekarang kita semua punya rekam jejak digital dan peristiwa  masa lalu. Sejak awal, saya tidak pernah berbohong kepada publik, dimana semua bisa dilihat dalam jejak digital dan  tidak ada kasus pelanggaran hukum dimasa lalu.   

Saat itu Netizen masih belum terpolarisasi dan belum terjadi perpecahan kubu aspirasi politik maupun ideologi seperti sekarang.  Dalam percakapan itu yang  juga melibatkan beberapa orang seperti pekerja seni termasuk saya ,  dapat saja menggunakan bahasa gurauan yang oleh pihak lain dapat dianggap sebagai hal serius.

Setiap orang memiliki rekam jejak masa lalu, termasuk bagaimana percakapan di media sosial. Apapun itu, setiap orang tentu memiliki masa lalu, termasuk kesalahan yang dilakukan tanpa sengaja. Saat 14 tahun lalu, saya sebagai pekerja seni  tidak menyangka bahwa, saya akan menduduki jabatan publik di TVRI. 

Saya bertanggung jawab atas apa yang sudah saya tulis di media sosial dan juga sikap saya sebagai warga negara. Bahwa di belakang hari ada yang mengungkap beberapa tulisan di jejaring sosial, setelah saya atas kehendak Allah SWT menjadi Direktur Utama LPP TVRI, terlepas dari adanya tujuan tertentu - niatan sengaja membelokkan opini dan melakukan pembunuhan karakter - tentu merupakan fakta yang harus saya hadapi. 

Bagi saya, sangat penting untuk memguatkan komitmen saya untuk memperbaiki hal hal yang buruk dimasa lalu dan memulai tahap baru. Saya berdoa dan memohon ridha Allah untuk senantiasa mampu mengemban beban amanah melalui jabatan Direktur Utama LPP TVRI.   Apa yang diungkap di masyarakat tentu merupakan kritik dan masukkan bagi saya agar semakin lebih baik ketika menyandang amanah Allah bekerja di TVRI. Termasuk tata cara perilaku dan narasi di ruang publik.

Saya akan fokus bekerja sebaik mungkin untuk kepentingan masyarakat  bangsa dan negara. Saya juga sudah mulai berusaha menyelesaikan urusan internal yang sangat strategis ialah menyelesaikan urusan tunjangan kinerja karyawan khususnya mengenai rapel  tunkin yang merupakan hak hak karyawan.  Sejalan dengan itu saya bersama kolega anggota Direksi juga memulai penyelesaian pengisian  jabatan struktural yang masih kosong guna memperlancar urusan penyelenggaraan TVRI.  

Ini menjadi priroritas saya agar sebagai media Lembaga Penyiaran Publik  TVRI dapat segera meningkatkan karyanya agar semakin maju  berkarya, semakin  bermanfaat untuk publik, bangsa dan Negara kesatuan Republik Indonesia serta membawa kemajuan manajemen dan kesejahteraan  pegawai. Saya berpedoman, bahwa jauh lebih penting untuk bekerja dan mewujudkan janji saya dalam membawa TVRI ini menjadi lebih maju ke depannya.

Semoga Allah Tuhan Yang Maha Pengasih senantiasa menolong dan membimbing saya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Iman Brotoseno, 20 Mei 2020. (*/bud)
Komentar

Tampilkan

Other Stories