Iklan

Saksi-saksi Kasus Penistaan Agama dan Ujaran Kebencian Abu Janda Mulai Diproses Polisi

5/28/2020, 21:14 WIB Last Updated 2020-05-28T14:46:53Z
masukkan script iklan disini

Saksi penistaan agama, Ustdzah Hj. Nena Zaenab dan Ratna Sari didampingi pengacaranya, Advokat Djudju Purwantoro dan Rekan mendatangi Mabes Polri. (Foto : Tim Djudju Purwantoro)

Fokushukum.com, Jakarta - Advokat Djudju Purwantoro, dan Rekan yang juga Sekretaris Jenderal IKAMI (Ikatan Advokat Muslim Indonesia) mendampingi para saksi atas terlapor Abu Janda alias Permadi Arya mendatangi Mabes Polri, Jakarta atas panggilan Cyber Crime Mabes Polri, Kamis (28/5/2020) sore.

Abu Janda dilaporkan terkait penistaan agama, penghinaan (hate speech) melalui media elektronik, melontarkan kata-kata yang dianggap ujaran kebencian di media sosial. Abu Janda patut diduga telah melanggar pasal 28 ayat 2 UU No. 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, jo pasal 156A KUHP. 

"Kami, sebagai kuasa hukum saksi, Ustdzah Hj. Nena Zaenab dan Ratna Sari juga menyiapkan beberapa barang bukti berupa postingan Abu Janda di Medsos, yaitu penistaannya kepada Islam," kata Djudju melalui siaran pers yang diterima Fokushukum.com.

Bareskrim Polri mulai menindaklanjuti Laporan Polisi   (No : STTL/572/XII/2019/BARESKRIM), tertanggal 10 Desember 2019, oleh seorang pelapor bernama Drg. Mariko Herlianko dengan didampingi Advokat dari IKAMI. 

Saksi Ustadzah Nena mengatakan, pihaknya sudah cukup lama menunggu lebih dari tiga bulan, agar laporan kepada Abu Janda bisa diproses hukum oleh kepolisian secara profesional. 

"Di negri ini tidak ada seorangpun yang kebal hukum, termasuk Abu Janda. Oleh karenanya saya berharap aparat penegak hukum harus tetap dan segera memproses kasus  ini," kata Ustadzah Nena.

Djudju juga menilai Abu Janda ini seperti warga negara istimewa saja,  kerap diduga melakukan pelanggaran hukum yaitu ujaran kebencian, terutama kepada umat dan agama Islam. Umat muslim yang mayoritas di negeri ini jadi bertanya- tanya, siapakah sebenarnya  seorang Abu Janda, karena laporan polisi terhadapnya sering kandas.

"Kali ini saya berharap, hukum juga harus tajam kepada si penista terhadap agama dan umat Muslim, agar negeri hukum ini (rechtstaat) tidak terus dilecehkan oleh mereka yang menyebar fitnah dan benci kepada islam," kata Djudju. (*/bud)

Komentar

Tampilkan

Other Stories